Warning: fopen(/storage/ssd3/834/2221834/tmp/ePTTCZUnLRzC-OJWk66.tmp): failed to open stream: Disk quota exceeded in /storage/ssd3/834/2221834/public_html/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 117

Warning: unlink(/storage/ssd3/834/2221834/tmp/ePTTCZUnLRzC-OJWk66.tmp): No such file or directory in /storage/ssd3/834/2221834/public_html/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 120

Himbauan Nonton Film ‘NAURA DAN GANK JUARA’ Dengan Pikiran Jernih


Beureum.comNAURA & GENK JUARA yang diharapkan bisa membangkitkan lagi animo publik terhadap film dan lagu anak mendapat sebuah ‘tamparan’ keras setelah ada seorang netizen menyebut jika film yang dibintangi oleh Naura itu mendiskreditkan agama Islam. Bahkan dari situ, ada petisi yang dijalankan, dengan tujuan untuk menghentikan film anak yang melecehkan agama.

Tentu saja hal ini mencoreng kredibilitas dari film NAURA & GENK JUARA yang baru tayang pada Hari Kamis (16/11) lalu di bioskop. Ketua Umum Asosiasi Produser Indonesia (APROFI), Fauzan Zidni ikut menanggapi insiden ini. Ia menegaskan jika NAURA & GENK JUARA adalah film yang bagus untuk anak, karena di dalamnya terdapat banyak pesan positif, seperti mengajari anak untuk mencintai alam, mencintai ilmu pengetahuan, tentang kerjasama dan juga persahabatan. Fauzan menyayangkan tuduhan yang disampaikan terhadap sutradara Eugene Panji yang dianggap menistakan agama lewat filmnya.

“Saya cuma berharap pihak yang ramai membuat ini menjadi kontroversi untuk menonton kembali filmnya, lalu menilai dengan pikiran jernih. Jangan apa-apa langsung dituduhkan penistaan agama. Tolonglah bisa lebih bijak dengan memisahkan antara karya seorang filmmaker dengan pilihan politik yang pernah dia pilih.” ujar Fauzan.

Naura dan Geng Juara dituding diskreditkan Islam © KapanLagi.com®/Agus ApriyantoNaura dan Geng Juara dituding diskreditkan Islam © KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

“Film Naura adalah film yang sehat untuk tontonan anak-anak. Sudah lama Indonesia tidak memiliki film musical, dan Eugene sudah membuat karya yang sangat baik. Harus kita apresiasi.” sambung Ketua Umum Indonesian Film Director Club (IFDC) Lasja F. Susatyo.

“Marilah kita tetap menjadi bangsa yang toleran dan tidak menjadi bangsa  pemarah. Penggunaan dalil penistaan agama untuk hal yang paling innocent seperti tontonan anak malah menyuburkan bibit kebencian dari rasa curiga sejak usia dini. Ibu yang bijak adalah kunci dari pendidikan toleransi di negara ini” papar Lasja lebih jauh.

Sementara itu, ketua LSF, Ahmad Yani Basuki, juga menyampaikan pendapat serupa. Bahkan Ia sampai harus memberikan sedikit spoiler mengenai alur cerita dari NAURA & GENK JUARA guna meluruskan tuduhan salah yang telah disuarakan oleh beberapa pihak.

“Film ini film musikal (seperti PETUALANGAN SHERINA). Berkisah tentang rombongan anak sekolah yang berkegiatan di sebuah hutan konservasi. Di tengah kegiatan itu ada 3 orang penjahat yang melakukan pencurian hewan dari kandang konservasi yang ternyata didalangi si petugas penjaga konservasi itu sendiri.

Tiga orang penjahatnya bercambang dan bertampilan agak kasar, sebagaimana layaknya tampilan penjahat pada umumnya. Satu di antaranya memakai celana pendek, bukan celana cingkrang. Oleh karena itu, jauhlah dari gambaran saudara-saudara kita yang sering dipandang sebagai radikal/teroris, karena jenggot dan model celananya.

Sebagai film setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bisa-bisa saja penjahatnya beragama Islam. Sama wajarnya jika dalam negara yang mayoritas penduduknya non-muslim penjahat non-muslim. (Seperti dalam film HOME ALONE misalnya).

Ketika si penjahat di tengah malam di hutan lagi ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa. Karena dia muslim dia bacanya doa Islam. Tapi yang dibaca salah ‘comot’, yaitu doa mau makan. Karena itu ditegur temannya, doanya salah, doa makan. Ketahuan penjahatnya muslim, ya karena dia baca doa itu, yang cenderung latah-latah juga. Tapi tidak ada penggambaran spesifik atau kesan penegasan bahwa muslim itu jahat.

Tidak bedanya jika ada film tentang kasus korupsi lalu koruptornya di dalam bui berdoa atau shalat, itu sama sekali tak berarti merepresentasikan Islam/umat Islam itu jahat. Bagi LSF, tidak terlihat adanya  bagian yang secara jelas mendiskreditkan Islam.

Jika dihubung-hubungkan dengan penista agama, rasanya terlalu jauh berspekulasi. Kita tahu kalau penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu. Ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya memang membaca istighfar. Tetapi sekali lagi, bagi LSF, itu tdak serta merta menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam.

Untuk memahami film NAURA DAN GENG JUARA, kiranya memang perlu menonton langsung filmya. Dan akan semakin baik kalau pernah menonton film PETUALANGAN SHERINA, HOME ALONE dan atau JENDERAL KANCIL yang diperankan Ahmad Albar di masa kecilnya dahulu,” tutup Ahmad Yani dalam curahan hatinya yang panjang.

Sebelum ini, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto juga ikutan bersuara menanggapi problema ini. Begini pendapatnya…

Jangan Lewatkan!
Berita Foto

sumber : kapanlagi.com

loading...