Warning: fopen(/storage/ssd3/834/2221834/tmp/ePTTCZUnLRzC-b2pgMB.tmp): failed to open stream: Disk quota exceeded in /storage/ssd3/834/2221834/public_html/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 117

Warning: unlink(/storage/ssd3/834/2221834/tmp/ePTTCZUnLRzC-b2pgMB.tmp): No such file or directory in /storage/ssd3/834/2221834/public_html/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 120

Produser & Sutradara ‘DILAN 1990’ Klarifikasi ‘Perseteruan’ Dengan Pidi Baiq


Beureum.com – Novel dan film merupakan dua medium yang berbeda. Ketika novel best seller diadaptasi menjadi sebuah layar lebar, penulis novel mempunyai kewenangan menyerahkan kepada kreator atau ikut terlibat di dalamnya.

Dalam pembuatan adaptasi novel Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 ke layar lebar, Pidi Baiq selaku penulis rupanya memilih terlibat dalam proses belakang dan memiliki keberatan terkait beberapa aspek. Perbedaan sudut pandang sutradara dan produser dengan Pidi membuat adanya perseteruan pendapat.

Dalam wawancara dengan salah satu media cetak pada tahun lalu, Pidi sempat mengucapkan penyesalan perihal proses adaptasi tersebut. Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Fajar Bustomi selaku sutradara dan Ody Mulya selaku produser, mereka pun memberikan klarifikasinya.

“Jadi memang dari awal kita commitment dengan Ayah Pidi Baiq kalau scene by scene skenario, dia harus kawal. Dari A sampai Z dia setuju, ketika bungkus untuk syuting ada kendala masalah visual novel dan film. Saya maklum Ayah belum ngerti sinematografi atau gimana penggarapan film, jadi saya jelaskan begini. Misal, dia bilang syuting di Warteg aja, tapi film kan nggak bisa kayak gitu. Di film dituntut art harus bagus sampai Ayah merasa, ‘Oh ini tuntutan penonton bukan saya lagi‘. Kita sumbang saran sama Ayah kalau film bukan soal menyimpelkan, tapi apa yang harus ditunjukkan. Itu yang kita jaga. Belajar dari film BARACAS, dia realis, tapi untuk DILAN 1990 kita sepakat harus spesial,” terang Ody saat ditemui di CGV Grand Indonesia, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (16/1).

Film Dilan garapan Fajar sukses pukau sang penulis novelnya / Credit: KapanLagi - Akrom SukaryaFilm Dilan garapan Fajar sukses pukau sang penulis novelnya / Credit: KapanLagi – Akrom Sukarya

Fajar melanjutkan, “Saya pun kalau menjadi penulis novel, novel itu anak kita. Ketika anak kita ibarat dipotong kakinya, tangannya, pasti tidak terima. Makanya di situ saya memeluk dia. Saya bilang, ‘Ketika novel kamu udah dibuat menjadi film, kamu harus siap dengan media yang berbeda. Pembaca bebas berimajinasi membayangkan Dilan seperti apa. Tapi ketika novel ini dijadikan film, itu imajinasi filmmaker. Jadi harus ikhlas‘. Lagipula nggak mungkin 300an halaman dibikin,” urainya.

Setelah melewati proses panjang yang begitu berat, sampailah pada tahap editing final. Begitu melihat hasil akhirnya, reaksi Pidi Baiq ternyata sangat senang sampai menuliskan kebahagiaan itu di akun Instagramnya.

“Rasa puas itu dia curahkan di Instagram. Dia langsung telepon saya dan bilang begitu. Dia bilang terima kasih ke semua proses ini. Ya itulah proses kreatif, kita terkadang bertengkar untuk membuat karya. Kita mau buat sesuatu yang bagus dan akhirnya semua bisa menyatu. Dia senang, dia bilang mau bikin film kedua, ketiga. Tapi saya bilang kita fokus dulu yang ini. Harus saya akui, Ayah ini seniman yang cerdas dan pinter,” pungkas Fajar.

Jangan Lewatkan!
Berita Foto

(kpl/abs/gtr)

sumber : kapanlagi.com

www.000webhost.com

loading...